MY LOST SOUL
Sekejap seperti kehilangan tujuan hidup, aku pikir
ini hanya amnesia sesaat. Tapi sekarang aku tak mengerti kenapa aku belum sadar
juga. Dan walau aku tahu kini aku amnesia aku tak dapat menyadarkan diriku.
Jiwaku seperti tak mau kembali dalam kenyataan, dia terpaku disana bersama sang
senja yang telah menghilang. Dia disana tak tahu kapan harus kembali dan
menyapa mentari. Mungkin sampai mati. Indahnya senja membiusnya, melumpuhkan
tubuhnya, membuatnya bahkan tak mampu bernafas dengan tenang.
Aku tak tahu
kenapa aku dapat menulis ini. Rasanya aku hidup bukan dengan jiwaku. Aku takut,
teramat takut untuk melihat dunia tanpa jiwaku. Terkadang tubuhku gemetar hanya
menatap mereka yang begitu asing bagiku, membayangkan berdiri diantara mereka
yang tak memperdulikanku.
Dulu aku memiliki mereka, 6 malaikat penyelamatku. Bersama
seolah kejamnya kehidupan hanyalah lelucon. Sedih marah menjadi barang yang
paling berharga yang dapat kami dapatkan, hanya tawa yang bisa kami beli.
Setiap hujan turun adalah kebahagiaan bersama mereka. Tak ada yang mengenalku
melebihi mereka. Dan kini 6 malaikat itu telah terbang, mereka menemukan sayap
mereka yang menghilang, begitu juga aku. Tapi ada apa dengan sayapku, sayap ini
tak mampu membawaku terbang. Dan disinilah aku sekarang, masih di tempat ini
bersama kenangan – kenangan indah yang membuatku semakin terpuruk.
Semangat itu telah lama menghilang, dulu aku
berfikir bahwa mungkin Tuhan menciptakan dunia ini untuk aku, aku tokoh utama
kehidupan ini. Mereka mungkin hanya boneka – boneka yang Tuhan ciptakan untuk
melengkapi kehidupan ini. Aku melihat diriku begitu spesial, dan kehidupan
mereka tak se – spesial diriku. Aku bahagia. Tapi kini, pemeran tambahan pun
aku tak pantas untuk kehidupan ini.
Aku begitu muak dan kadang memikirkan bagaimana
rasanya kematian. Mungkin kematian tak semembosankan dunia ini. Tapi aku takut
saat aku ingin mati aku tak dapat merasakan kematian itu sendiri. Karena bersama
dengan datangya rasa kematian yang aku inginkan aku sendiri juga mati. Aku
tetap tak dapat merasakannya. Jadi siapa manusia yang dapat merasakan kematian.
Siapa mereka yang menulis semua buku, artikel dan apa itu tentang kamatian
hanyalah bedebah tak berguna.
Kini aku menjadi seseorang yang dengan mudah
membenci sesuatu. Menjadi pesimis akan kehidupan. Membenci mereka yang
mengatakan baik – baik saja hanya untuk penghiburan. Apa yang aku butuhkan
untuk merubahku, apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan jiwaku yang
mulai sekarat??????????
Mungkin aku perlu BERTOBAT dan kembali ke jalan
kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar