Rabu, 02 Desember 2015

3 Desember 2015

MY LOST SOUL
Sekejap seperti kehilangan tujuan hidup, aku pikir ini hanya amnesia sesaat. Tapi sekarang aku tak mengerti kenapa aku belum sadar juga. Dan walau aku tahu kini aku amnesia aku tak dapat menyadarkan diriku. Jiwaku seperti tak mau kembali dalam kenyataan, dia terpaku disana bersama sang senja yang telah menghilang. Dia disana tak tahu kapan harus kembali dan menyapa mentari. Mungkin sampai mati. Indahnya senja membiusnya, melumpuhkan tubuhnya, membuatnya bahkan tak mampu bernafas dengan tenang.
Aku  tak tahu kenapa aku dapat menulis ini. Rasanya aku hidup bukan dengan jiwaku. Aku takut, teramat takut untuk melihat dunia tanpa jiwaku. Terkadang tubuhku gemetar hanya menatap mereka yang begitu asing bagiku, membayangkan berdiri diantara mereka yang tak memperdulikanku.
Dulu aku memiliki mereka, 6 malaikat penyelamatku. Bersama seolah kejamnya kehidupan hanyalah lelucon. Sedih marah menjadi barang yang paling berharga yang dapat kami dapatkan, hanya tawa yang bisa kami beli. Setiap hujan turun adalah kebahagiaan bersama mereka. Tak ada yang mengenalku melebihi mereka. Dan kini 6 malaikat itu telah terbang, mereka menemukan sayap mereka yang menghilang, begitu juga aku. Tapi ada apa dengan sayapku, sayap ini tak mampu membawaku terbang. Dan disinilah aku sekarang, masih di tempat ini bersama kenangan – kenangan indah yang membuatku semakin terpuruk.
Semangat itu telah lama menghilang, dulu aku berfikir bahwa mungkin Tuhan menciptakan dunia ini untuk aku, aku tokoh utama kehidupan ini. Mereka mungkin hanya boneka – boneka yang Tuhan ciptakan untuk melengkapi kehidupan ini. Aku melihat diriku begitu spesial, dan kehidupan mereka tak se – spesial diriku. Aku bahagia. Tapi kini, pemeran tambahan pun aku tak pantas untuk kehidupan ini.
Aku begitu muak dan kadang memikirkan bagaimana rasanya kematian. Mungkin kematian tak semembosankan dunia ini. Tapi aku takut saat aku ingin mati aku tak dapat merasakan kematian itu sendiri. Karena bersama dengan datangya rasa kematian yang aku inginkan aku sendiri juga mati. Aku tetap tak dapat merasakannya. Jadi siapa manusia yang dapat merasakan kematian. Siapa mereka yang menulis semua buku, artikel dan apa itu tentang kamatian hanyalah bedebah tak berguna.
Kini aku menjadi seseorang yang dengan mudah membenci sesuatu. Menjadi pesimis akan kehidupan. Membenci mereka yang mengatakan baik – baik saja hanya untuk penghiburan. Apa yang aku butuhkan untuk merubahku, apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan jiwaku yang mulai sekarat??????????
Mungkin aku perlu BERTOBAT dan kembali ke jalan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar