Sabtu, 17 Juni 2017

BUALAN TANPA ARTI

Jika ini karmaku aku terima. Aku bukan orang yang suci akan dosa.
Jika ini takdirku,aku jalani. Yang terbaik hanya Allah Yang Mengetahui.
Jika ini kegagalanku,aku akui. Aku akui.
Penyesalan kulalui, aku mencoba bangkit walau sulit. Ini tak mudah mengetahui yang mana kebenarannya.
Apa kepercayaan bisa membimbingku?.
Aku mencoba untuk percaya,tapi aku sendiri meragukan kepercayaan.
Jadi aku seperti berada dalam ruang hampa udara tanpa waktu.
Berjalanku tanpa arah dan hasrat.
Sesuatu yang biasa bisa membuatku bahagia.
Dan aku marah karena itu, kenapa tidak yang biasa itu membuatku bahagia selamanya..
Jadi bagaimana hakekat manusia?
Aku punya nafsu dan keinginan untuk meraih yang terbaik.
Sungguh ini hanya bualan tanpa arti. Tanpa arti

FAITH

Apa yang aku khawatirkan, saat aku memiliki seorang ibu yang sehat dan penuh perhatian.
Apa yang aku takutkan saat sahabat dan keluarga yang hangat disekitarku.
Apa yang aku cemaskan, saat seharipun aku tak pernah kelaparan.
Kamarku hangat, dengan bantal dan guling yang empuk.
Kamar mandiku wangi, karena tak seharipun aku kehabisan sabun dan lulur mandi.
Kakiku tak pernah merasakan panasnya aspal dan kasarnya kerikil.
Pundakku belum pernah sekalipun memikul beban untuk mendapatkan lembaran uang.
Hanya menengadahkan tangan dan meminta dengan lembut, aku bisa mendapatkannya dengan cuma".
Bajuku selalu bersih, tak pernah tubuhku terjamah dingin atau panasnya cuaca.
Apa semua itu masih membuatku takut untuk hidup?
Sungguh bodoh dan dangkal kalau aku berfikir seperti itu. Apa aku orang yang tak pernah bersyukur jika masih khawatir akan esok dan lusa. Apa aku orang yang tidak beragama, jika masih mencemaskan rezeki yang aku terima.
Aku meyakinkan diriku,jika aku tak akan seperti itu. Tak akan mudah menumbangkanku. Jika uang dan kekayaan dapat membuatku ciut, aku kalah dalam dunia ini.
Apa kebahagiaan dapat dibeli dengan uang?
Yang ku ketahui, uang dapat membeli yang kita inginkan. Jika saja uang dapat membeli surga.
Tapi itu mungkin saja.
Jadi, aku harus bagaimana?
Yang ku yakini, aku memiliki ALLAH. Dan diriku yang menyemangati dari dalam dengan semua karya dan tulisan ku.
Aku mungkin sudah gila jika aku tak punya iman, beruntung Allah tak membiarkan kesesatanku berlangsung lama. Dengan-Nya memang banyak rintangan, tapi itu terasa menyenangkan dan seru karena Allah selalu memberiku senjata. Sesekali saat perjalanan terasa sulit dan penuh cobaan. aku berfikir jika ini jalan yang salah. Tapi kalau aku melihat dengan teliti jauh kedepan, ini jalan yang benar. Jalan yang terjal ini melatihku untuk lebih kuat dan menaikkan ketahanan diriku.
Ada saat" aku lelah dan ingin berhenti saja, tapi apa yang kudapatkan?
Hanya keringat dan luka dengan sedikit sekali hasil.
Aku tahu jika jurang didepan adalah rintangan ku selanjutnya.
Aku hanya perlu mengambil ancang" kebelakang dan mengatur nafas untuk mendapatkan loncatan yang panjang dan sampai diseberang dengan selamat. Tapi bagaimana jika aku gagal dan jatuh kedalam jurang. Kadang pemikiran seperti itu yang membuatku untuk berhenti saja, dan berteduh dibawah pohon besar ini dan hanya memandang taman indah diseberang jurang.
Aku menunggu gertakan kecil dalam hatiku yang membangkitkan adrenalin. Aku menunggu, sampai keberanianku datang, dan aku hanya akan melompat satu kali, dengan loncatan keberhasilan.
Ya Allah, berikanlah hambamu ini sedikit keberanian.

BELAJAR DARI GUCI

Guciku selama ini hanya terisi air yang tenang dengan perlahan, tapi kini kerikil bahkan batu berjatuhan kedalamnya. Aku tak yakin apa guciku mampu menahannya. Aku tak pernah tahu seberapa kuat guci yang kumiliki. Tapi aku bersyukur, guci ku diberi kesempatan untuk menampung kerikil dan batu yang tajam, sehingga aku tahu seberapa kuat dia bertahan dan bagaimana aku harus memperbaikinya atau bahkan menggantinya. Aku harus memiliki guci yang bisa menampung apapun yang Dia berikan. Bukan guci yang selalu meminta apa yang dapat dia tampung. Karena memiliki banyak hal akan lebih berharga daripada satu hal, walaupun berbagai hal tersebut tak cocok dengan guciku. Aku bisa menghancurkan guciku saat ini juga. Tapi aku memilih untuk memeluknya dan kuperbaiki retaknya. Karena bukan saat ini waktu untuk berganti guci atau menjualnya. Guciku masih layak untuk menampung yang Dia berikan. Tambalan kanan kiri, akan membuatnya kuat, walau sedikit merusak penampilanya. Aku hanya harus menutup mata saja, dan melanjutkan ini semua. Guci yang mulus rupanya, memang indah dipandang mata, tapi guci yang menyimpan banyak harta, lebih berharga dari segalanya.
Bagaimanapun rupa guci yang kamu miliki, jagalah dia. Jadikan dia guci yang kuat, yang bisa bertahan walau terjun dari atas ketinggian. Bukan guci yang akan retak lalu pecah hanya karena sebuah jarum terselip didalamnya.

SAAT KAMU MERINDUKAN SESEORANG

Doakan saja dia agar balik merindukanmu
Apa yang bisa kau lakukan selain itu?
Mengadu padanya?
Itu bisa saja. Tapi bukankah lebih indah jika sesuatu yang kita inginkan datang pada waktu yang tidak kita duga?
Itu hanya pikiranku saja, bisa beda bahkan kontra dengan kalian
Tapi aku takut jadi pengecut
Yang hanya merindukan tanpa bisa berbuat apa-apa
Itu hanya menyiksa
Merindukan seseorang yang merindukan orang lain
Jadi bagaimana jika rindu?
Jika rindu hanya dirimu, jangan rindu
Rindukanlah dia yang senantiasa merindukanmu
Siapa? Apa ada?
Ada
Siapa?
Penciptamu, Tuhanmu. Dia tak akan mempermainkan perasaan rindumu