Apa yang aku khawatirkan, saat aku memiliki seorang ibu yang sehat dan penuh perhatian.
Apa yang aku takutkan saat sahabat dan keluarga yang hangat disekitarku.
Apa yang aku cemaskan, saat seharipun aku tak pernah kelaparan.
Kamarku hangat, dengan bantal dan guling yang empuk.
Kamar mandiku wangi, karena tak seharipun aku kehabisan sabun dan lulur mandi.
Kakiku tak pernah merasakan panasnya aspal dan kasarnya kerikil.
Pundakku belum pernah sekalipun memikul beban untuk mendapatkan lembaran uang.
Hanya menengadahkan tangan dan meminta dengan lembut, aku bisa mendapatkannya dengan cuma".
Bajuku selalu bersih, tak pernah tubuhku terjamah dingin atau panasnya cuaca.
Apa semua itu masih membuatku takut untuk hidup?
Sungguh bodoh dan dangkal kalau aku berfikir seperti itu. Apa aku orang yang tak pernah bersyukur jika masih khawatir akan esok dan lusa. Apa aku orang yang tidak beragama, jika masih mencemaskan rezeki yang aku terima.
Aku meyakinkan diriku,jika aku tak akan seperti itu. Tak akan mudah menumbangkanku. Jika uang dan kekayaan dapat membuatku ciut, aku kalah dalam dunia ini.
Apa kebahagiaan dapat dibeli dengan uang?
Yang ku ketahui, uang dapat membeli yang kita inginkan. Jika saja uang dapat membeli surga.
Tapi itu mungkin saja.
Jadi, aku harus bagaimana?
Yang ku yakini, aku memiliki ALLAH. Dan diriku yang menyemangati dari dalam dengan semua karya dan tulisan ku.
Aku mungkin sudah gila jika aku tak punya iman, beruntung Allah tak membiarkan kesesatanku berlangsung lama. Dengan-Nya memang banyak rintangan, tapi itu terasa menyenangkan dan seru karena Allah selalu memberiku senjata. Sesekali saat perjalanan terasa sulit dan penuh cobaan. aku berfikir jika ini jalan yang salah. Tapi kalau aku melihat dengan teliti jauh kedepan, ini jalan yang benar. Jalan yang terjal ini melatihku untuk lebih kuat dan menaikkan ketahanan diriku.
Ada saat" aku lelah dan ingin berhenti saja, tapi apa yang kudapatkan?
Hanya keringat dan luka dengan sedikit sekali hasil.
Aku tahu jika jurang didepan adalah rintangan ku selanjutnya.
Aku hanya perlu mengambil ancang" kebelakang dan mengatur nafas untuk mendapatkan loncatan yang panjang dan sampai diseberang dengan selamat. Tapi bagaimana jika aku gagal dan jatuh kedalam jurang. Kadang pemikiran seperti itu yang membuatku untuk berhenti saja, dan berteduh dibawah pohon besar ini dan hanya memandang taman indah diseberang jurang.
Aku menunggu gertakan kecil dalam hatiku yang membangkitkan adrenalin. Aku menunggu, sampai keberanianku datang, dan aku hanya akan melompat satu kali, dengan loncatan keberhasilan.
Ya Allah, berikanlah hambamu ini sedikit keberanian.