Jumat, 27 November 2015

23 November 2015

BROTHER
Oke,, aku menyerah. Aku tak bisa menyembunyikannya lagi, tak dapat lagi membohongi hatiku kalau semua baik – baik saja, semua hanya sebuah peristiwa yang tak penting. Dan diabaikan adalah suatu hal yang baik – baik saja. Aku tak dapat lagi berfikir itu semua. Ingin kupukul wajahmu sampai kau tak dapat lagi tersenyum dengan senyum yang dapat menusukku saat kau melakukanya di depan mataku dan hingga mata kita bertemu kau tetap tak mengatakan apa – apa. Sh*t child.
          Mereka berkata, tak usah kau fikirkan, itu hanya hal yang biasa. Pikirkanlah hidupmu, just your life, Mel. How can I do that, if just you in my mind????
          Kau sakit dan tetap saja mengatakan tak apa saat tubuhmu bahkan akan jatuh dan meringkuk. Kau dengan tegarnya mengatakan semua baik – baik saja. Tak tahukah aku menjerit, ingin menamparmu agar kau sadar betapa khawatirnya aku. Dan sikapku berlebihan. I don’t care it. I care you. Setelah semua itu terjadi, kau menyadari kau sakit dan berhari – hari menyembuhkan dirimu tanpa kabar yang mendatangiku, aku merasa bersalah. Is it because me?
          Dan kini kau sembuh, benar – benar sembuh. Dan kenapa tetap saja aku kesal, kau tak juga muncul, tak juga menyapaku, tak kunjung menghampiriku dan memanggil namaku. Benar – benar sh*t child.
          Walau aku sadari aku ingin menangis karena kesalnya akan tingkahmu, tapi aku tak tahu kenapa itu tak dapat aku lakukan. This morning I hope, I will meet you, dan Tuhan mengabulkan  do’aku. Akan kutanyakan, apakah kau sudah sembuh? Kenapa tak datang kesini, tak datang kesana? And Why you not called me yesterday morning?. Dan walaupun semua itu mudah, jarak satu lengan kenapa membuat ini semua menjadi sulit dan mustahil diucapkan. I give up, mom.
          Ini bukan perasaan yang seperti itu. This is love? No, don’t thing about it, love is damn. You are my little and sweet brother. Perasaan sebagai kakak yang membuatku sangat mengkhawatirkanmu.

          Baiklah sh*t child, karena kau yang memulai, akan aku turuti kemauanmu. Jika kau ingin menjauh, tak usah kau lakukan, biarkanlah kakakmu ini yang pergi.Biarkanlah aku yang mengabaikanmu. Dan tetaplah menjadi my little and sweet brother. I’m really miss your laugh.

Kamis, 12 November 2015

PENERIMAAN TAMU AMBALAN HCS 2015.

13 November 2015

FUCK FRIENDS?????
Entah apa hanya aku yang merasakannya. Tapi kini kau bagai orang asing bagiku. Hingga keadaan saat ini seperti memaksaku meninggalkanmu dan mengabaikanmu.
          Apa yang salah denganku, kenapa tak kau beritahu kesalahanku agar aku dapat merubah semua itu. Kau memilih acuh dan menghilang dari lingkaran orang-orang yang dapat kuandalkan.
          Ku ingat pernah mengajarkan ini semua padamu. Berteman tanpa perasaan. Tapi aku menyesal pernah mengajarkan semua itu padamu. Kau melakukanya padaku juga.
          Semua tongkatku telah rapuh saat kedua kakiku masih belum sempat menopang beban tubuhku. Aku terlalu lama menderita, tapi aku memiliki keyakinan aku bisa melewati semua rintangan kehidupan ini walau tanpa tongkat sekalipun.
          Tak apa jika aku harus merangkak dan berlumuran lumpur hingga tubuhku tertutupi darah penderitaan. Aku bisa mencapai tujuanku.
          Kan kutemukan tongkat abadiku, pegangan hidupku, teman sejatiku. Yang tak berfikir dua kali untuk mempercayaiku. Yang akan lebih memilih sahabatnya daripada serpihan hatinya.
          Apakah aku marah kau pergi meninggalkanku?
Tidak, dan walau hatiku berkata Ya, aku akan tetap berkata tidak. That’s your choice. What can I do? Aku hanya dapat memberikanmu pelukan sahabat saat kau membutuhkanku… ingatlah “kawan” saat kau menangis padaku karena sahabat sejatimu meninggalkanku? Kubuka lebar pelukanku agar kau tak merasa kesepian. Kini saat sahabatmu telah kembali, kau pergi meninggalkanku tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.

BAHAGIALAH KAWAN, tak apa jika kau tak ada.

Selasa, 10 November 2015

11 November 2015

BE HAPPY MY LOVE
Bagian dari kehidupan. Pernahkah berfikir hidup orang lain lebih mudah daripada hidup kita?
            Maybe, every  person was thingking that.
Tuhan menciptakan semua masalah itu sama kadarnya pada setiap manusia. Entah itu masalah besar ataupun kecil, semua memiliki kadar yang sama. Ada seseorang yang berhati baja dan selembut sutra. Ada  juga mereka yang berjiwa rapuh. Tuhan adil.
            Mensyukuri nikmat-Nya adalah solusi terbaik saat batin tak lagi berpihak pada kebenaran. Mengikhlaskan semua kepada Pencipta, dan sekuat hati tersenyum memeluk kenyataan.
            Kadang  ada saat dimana kita tak dapat menahan sakit dan selalu tersenyum dibalik luka menganga. Ada saat-saat dimana malam terasa begitu kelam dan hanya tangisan panjang yang menjadi sahabat sejati.
Jangan bicarakan tentang kekasih hati. Mereka-mereka itu hanyalah segelincir dari duri yang menunggu waktu untuk menusuk diri kita. Mereka yang akan menaburkan garam kepedihan pada luka-luka yang belum sempat terobati.
Dan kepedihanku saat aku merasa duduk sendiri, berfikir tentang sesuatu yang tak harusnya kufikirkan. Melihat mereka tak mendengarkan perkataanku. Mendengar eluh, hinaan yang keluar dari sahabat sejati.
Mungkin aku tak sehina binatang jalang, tapi kesepian tanpa pegangan yang menggerogoti ragaku menjadikan aku lebih terkutuk dari itu.
Bersama secangkir teh hangat, kutuliskan curahan hatiku. Kuluapkan amarah, kepedihan, dan kehampaan yang kudapat. Mengeluarkan semua racun yang seharian kuhisap, dan kembali memeluk kesederhanaan yang menyakitkan.
Aku selalu berdo’a agar esok aku menjadi lebih baik. Mencoba menjadi anak, murid, sahabat dan  kakak yang dapat diandalkan. Berdo’a supaya mereka yang menyayangiku selalu mendapatkan kesehatan dan kemudahan dalam segala urusan. Dan semoga suatu saat nanti aku dapat melihat “mereka” tersenyum bangga melihatku dan berkata “kami bangga memilikimu”

TUHAN, KINI KUPASRAHKAN REZEKIKU PADAMU. LANCARKANLAH JALANKU DALAM TUJUAN  MEMBANGGAKAN KEDUA ORANG TUAKU. BERKAHILAH MEREKA YANG SEPENUH HATI MENOLONGKU, SESUNGGUHYA HANYA KAULAH PEGANGAN HIDUPKU.

Jumat, 06 November 2015

6 November 2015

……………..
          Seperti orang yang kehilangan satu rasa dalam hidupnya. Amat gila walau itu hanya satu rasa yang biasa, rasa yang tak ku sadari pentingnya dia saat dia ada. Dan kini terasa sudah betapa berharganya rasa itu. Karena tanpa rasa itu, semua rasa yang aku miliki kini terasa hambar semua. Dengan siapa kuluapkan amarah ini?
          Aku sakit. Jiwaku terluka. Aku menangis dalam setiap nafasku. Aku berteriak memaki. Hidup ini seperti terlewat tak ada arti. Kemana mereka semua, dimana pelukan sahabat sejati? Bahkan tepukan pundak sekedar menguatkan tak kudapatkan. Kukuatkan diriku sendiri, kubangun benteng dengan semua mimpi sampah.
          Aku menjadi seseorang yang berbeda. Aku menjadi monster. Monster liar yang tak segan membunuh dan mencabik siapa saja yang berani menyentuh bulu-bulu kumalku. Biarlah itu terjadi, aku telah kehilangan pawang hidupku. Teladan hidup, kesederhanaan, keikhlasan, dan semangat tagguh yang tak akan aku dapat dari guru dimanapun diseluruh dunia ini. Teladan hidup yang selalu berfikiir optimis, berjiwa pemenang.
          Bagaimana ini, aku seperti tak sanggup menjalani ini sendiri. Bagaimana dengan janji yang belum sempat aku tepati? Bagaimana ini.
          Egokukah tak ingin kau pergi? Salahkukah jika menangisi kepergianmu?
          Maafkan aku….
Maaf tak menggenggam erat tanganmu saat kau minta untuk terakhir kali.
Maaf tak sempat mengucap terima kasih untuk semua kebaikan
Maaf tak menepati janjiku waktu itu
Maaf jika kadang aku terlalu berat hati saat kau minta tolong

          Terima kasih nenekku tersayang, satu-satunya nenekku.