A
CUP COFFE WITH SUNSET
Cerita
ini masih dengan tokoh utama yang sama, yang membuatku menangis, tertawa,marah
tanpa perlu melakukan apa-apa. Satu kenangan yang tak kan dapat kulupakan
sampai sekarang. Seperti secangkir kopi hitam pahit yang ada disampingku.
Rasanya akan selalu membekas dilidahku, bukan rasa pahit biasa, tapi rasa pahit
dari secangkir kopi di senja hari. Itulah perasaanku, tapi bukan rasa pahit,
melainkan manis yang luar biasa tanpa kusadari bukan gula melainkan glukosa
yang akan menggerogoti tubuhku suatu saat nanti. Dan rasa manis itu kembali
dalam pengecapanku. Aku kembali melihatnya dalam rasa cinta, rindu dan sayang.
Ini
Indah tapi sakit saat kuingat kenangan cinta itu mimpi buruk. Hanya dengan satu
ucapan, semua rasa itu kembali lagi. Aku menangis………Mungkin mereka tak
menyadarinya, tapi itu sebuah luka. Darah kering itu mencair kembali dan
menjadi luka yang lebih dalam dari sebelumnya.
Rasa
itu ada, tapi dulu dan telah lama aku pendam, kulupakan dan berharap hidupku
akan lebih baik saat tak ada bayanganya dalam sisa hidupku. Dan itu berhasil.
Tapi sebuah duri halus menyusup kedalam peti kenanganku tanpa memerlukan kunci
untuk membukannya, namun kunci itu sendiri telah hilang. Dengan tusukan kecil,
duri itu menyakiti kenangan masa lalu dan membuatnya merasakan penderitan lagi.
Yang
membuatku membencinya,……….Mungkin aku butuh waktu seumur hidupku untuk mencari
jawabannya. Tapi kini aku mulai menyimpulkan sendiri dugaan hatiku dan
menerka-nerka dengan logika gila yang kumiliki tanpa harus mencarinya. Dan aku
memutuskan untuk membencinya karena dia terlalu sulit untuk dimiliki dan
mengijinkan dirinya untuk dimiliki orang lain. Tak ada masalah dengan hatinya,
bijak dan memahami. Mungkin itu yang aku kenal. Dia akan menjadi kenangan tak
biasa yang aku miliki. Dan walau rasa sakit itu masih terasa, aku akan
merasakanya, karena rasa sakit ada untuk
dirasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar