Kamis, 13 Agustus 2015

11 Agustus 2015

A CUP COFFE WITH SUNSET
Cerita ini masih dengan tokoh utama yang sama, yang membuatku menangis, tertawa,marah tanpa perlu melakukan apa-apa. Satu kenangan yang tak kan dapat kulupakan sampai sekarang. Seperti secangkir kopi hitam pahit yang ada disampingku. Rasanya akan selalu membekas dilidahku, bukan rasa pahit biasa, tapi rasa pahit dari secangkir kopi di senja hari. Itulah perasaanku, tapi bukan rasa pahit, melainkan manis yang luar biasa tanpa kusadari bukan gula melainkan glukosa yang akan menggerogoti tubuhku suatu saat nanti. Dan rasa manis itu kembali dalam pengecapanku. Aku kembali melihatnya dalam rasa cinta, rindu dan sayang.
Ini Indah tapi sakit saat kuingat kenangan cinta itu mimpi buruk. Hanya dengan satu ucapan, semua rasa itu kembali lagi. Aku menangis………Mungkin mereka tak menyadarinya, tapi itu sebuah luka. Darah kering itu mencair kembali dan menjadi luka yang lebih dalam dari sebelumnya.
Rasa itu ada, tapi dulu dan telah lama aku pendam, kulupakan dan berharap hidupku akan lebih baik saat tak ada bayanganya dalam sisa hidupku. Dan itu berhasil. Tapi sebuah duri halus menyusup kedalam peti kenanganku tanpa memerlukan kunci untuk membukannya, namun kunci itu sendiri telah hilang. Dengan tusukan kecil, duri itu menyakiti kenangan masa lalu dan membuatnya merasakan penderitan lagi.
Yang membuatku membencinya,……….Mungkin aku butuh waktu seumur hidupku untuk mencari jawabannya. Tapi kini aku mulai menyimpulkan sendiri dugaan hatiku dan menerka-nerka dengan logika gila yang kumiliki tanpa harus mencarinya. Dan aku memutuskan untuk membencinya karena dia terlalu sulit untuk dimiliki dan mengijinkan dirinya untuk dimiliki orang lain. Tak ada masalah dengan hatinya, bijak dan memahami. Mungkin itu yang aku kenal. Dia akan menjadi kenangan tak biasa yang aku miliki. Dan walau rasa sakit itu masih terasa, aku akan merasakanya, karena rasa sakit ada untuk dirasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar