27 Juli
2015
Kematian sedekat kita
dengan urat nadi. Kita tak dapat melihatnya, tapi saat waktu itu sudah dekat
kita dapat merasakannya. Tuhan Maha Pandai dalam mengatur kehidupan dan
kematian umatnya, sisa umur kita tak diperlihatkan olehNya. Walaupun kita
dibuat lalai oleh itu semua, semua kesenngan duniawi yang semu, kita menjadi
lupa akan kematian kita, dosa-dosa kita. Dan dengan egonya kita berfikir bahwa
usia kita masih panjang dan hari tua menjadi jaminan penebusan dosa dan taubat.
Kini kudisadarkan oleh kematian seseorang dalam kemungkarannya. Terlihat semua
auratnya dan mungkin belum sempat mengakui dosa-dosanya. Kematian ada disekitar
kita, jika kita lalai dan tak sengaja menyentuhnya, ajal yang menjadi
balasannya. Ada beberapa orang yang menginginkan kematian, entah apa yang
terfikir didalam otak kosongnya, apakah mereka mengira sudah tak punya dosa?
Jika aku ingin, aku ingin mati saja saat masih muda, saat tangan-tangan setan
tak dpat menyeretku ke rumahnya dineraka. Kertas tanpa sedikitpun noda hitam
karena dosa dan zina yang setiap hari kini jadi santapan yang biasa, dan
amalan-amalan serta sholat seakan menjadi kegiatan kaku yang jarang dilakukan.
Tuhan terimakasih atas hidayah dan jalanmu menyadarkanku menuju kembali ke
jalan kebaikanmu walaupun dengan caramu yang tak kusukai. Ramadhan ini aku
ingin bukan ramadhan terakhirku, aku ingin mengkhatamkan al-qur’an walau satu
kali lagi dalam hidupku. Aku ingin mencium kedua orang tuaku dengan hati yang
lapang tanpa rasa benci dan amarah. Kembali menjalankan ibadah yang sudah lama
kutinggalkan. Aku ingin mati dengan
membawa kedamaian hati. Aku yakin saat itu adalah saat aku dapat membahagiakan
kedua orang tuaku dengan kesukssesan dan menjadi anak yang patuh yang sholehah.
29 Juli
2015
Derajat kehilangan seseorang sebanding
dengan baesarnya kita menyayanginya dan nyaman saat berada didekatnya. Hari ini
aku kehilangan cintaku, sahabatku dan dunia yang kuciptakan sendiri. Marah,
sedih semua perasaan itu jadi satu membentuk gelembung sabun yang siap pecah
kapanpun. Untuk hidup sendiri tanpa rasa takut sepertinya hanya impian belaka.
Ya Tuhan, aku harap ini sebagai caramu mengingatkanku akan pentingnya curhat
denganMu. Kini laptoppun sudah tak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia.
Sepertinya mimpi indah tentangmu tak akan indah lagi mulai tidur hari ini. Tawa
lepas tanpa rasa curiga kini mungkin hanya mimpi di siang bolong. Aku takut
mereka mengetahui semua yang sebenarnya aku rasakan, BUSUK. Tak jujur pada diri
sendiri, dialah orang yang benar-benar aku sayangi dan seperti itulah caraku
mencintainnya. Dia yang hadir dalam setiap mimpi liburanku dan memberiku senyum
semangat untuk terus bertahan dalam dunia yang kini kuhadapi saat ini. Aku
memang benci, kesal, dan hanya amarah yang akan keluar dari mulut ini saat
bersamanya, itulah caraku mempertahankannya. Bukan mereka yang selalu aku
puja-puja yang ketara didepan mata. Bukan hatiku yang menginginkanya, tapi
nafsuku. Aku tak mengerti pasti kenapa aku menangisimu karena kelakukanmu
terhadapku dengan begitu parahnya, ya mungkin karena tangis itu berasal dari
hatiku yang bertugas memproduksi barang bernama cinta dan kini mesin itu
sepertinya telah terselipi benda jorok yang disebut aib dan tak dapat lagi
menghasilkan cinta. Dunia yang hanya aku miliki sendiri ini telah rusak, dan
aku tak yakin dapat memperbaikinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar